Kamis, 25 Desember 2008

Resensi buku: The Curious Incident of The Dog in The Night-Time

Terjemahan judul buku ini adalah: Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran.
Ini adalah novel anak-anak yang pernah dianugerahi berbagai penghargaan sastra.
Salah satunya Whitbread Novel Award 2003, hadiah sastra yang bergengsi di Inggris.
Hal yang membuat buku ini dahsyat adalah keputusan pengarang untuk mengambil sudut pandang tokoh utamanya, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang mengidap Syndrom Asperger, sejenis autism.

Tokoh ini bernama Christopher Boone.
Ia menemukan anjing tetangganya mati & bertekad memecahkan misteri itu.
Untuk anak-anak, ceritanya emang agak kompleks & sering menyentuh “urusan orang tua”. Tapi disini aku tidak akan membahas soal cerita.
Aku ingin bercerita soal karakter Christopher yang menarik itu.

Pernah dengar tips “Show Not Tell”? Tunjukkan, jangan sebutkan. Tips ini sudah banyak diketahui pada penulis. Tapi Mark Haddon, sang pengarang, menggunakan strategi Show and Tell.

Ia menyebutkan (Tell) gangguan perilaku Christopher sebagai berikut.
1. Tidak suka disentuh
2. Menjerit kalau sedang kesal atau bingung
3. Mengerang
4. Benci warna kuning dan coklat
5. Tidak mau makan kalau jenis makanan yang berbeda saling bersentuhan, dll.

Selain itu, dari penjabaran cerita (Show), Haddon berhasil membangun karakter dengan kuat, & membuat aku tahu banyak tentang karakter orang autis.

Menurutku, bagian otak Christopher yang ‘jalan’ adalah otak kiri.
Sebaliknya, sepertinya ia memiliki gangguan di otak kanannya.

Haddon menceritakan bahwa Christopher itu:
1. Jago matematika & fisika & punya minat yang besar terhadap keduanya
2. Menyukai segala hal yang teratur, terpola, & terjadwal. Ia suka menggambar, terutama peta, & yang paling tidak disukainya adalah masa depan, yang menurutnya sangat tidak pasti. Ia membenci ketidakpastian.
3. Tidak mampu melihat yang tersirat. Ia tidak mengerti metafora. Ia tidak mengerti sindiran. Ia tidak tahu harus menjawab apa kalau orang berkata, “Yang benar saja! Masak kamu tidak tahu?”
4. Tidak bisa menerima berbagai stimulus yang terlalu banyak. Terlalu banyak hal yang dilihat, didengar, & dipikirkan membuat ia pusing bahkan muntah
5. Manusia menggunakan otak kanannya untuk melihat sesuatu secara holistic (menyeluruh). Christopher tidak dapat melakukan itu. Sebaliknya, ia memperhatikan detail. Ia melihat warna sepatu orang, apa yang dipegang orang,dll. Daya ingatnya sangat bagus.
6. Tidak bisa memahami perasaan orang lain. Ia melihat ayahnya berurai air mata. Tapi ia tidak merasakan kesedihan ayahnya. Tetangganya sedih melihat ibu Christopher sselingkuh. Tapi Christopher sama sekali tidak sedih. Ia tidak bisa melihat sudut pandang orang lain & tidak bisa berempati.
7. Tidak bisa mengekspresikan perasaannya sendiri. Ia tidak bisa bilang, “Hari ini aku senang”. Tapi Ia menulis, ‘Perasaanku seperti ini J’
8. Ia tidak mengerti ejekan tapi ia tidak suka ditertawakan (ia sering ditertawakan karena kemampuan bahasanya yang rendah)
9. Kemampuan sosialisasi sangat rendah. Ia senang sendiri. Takut berbicara dengan orang asing. Tidak suka berbasa-basi. Tidak bisa menatap orang yang berbicara dengannya.

Beberapa hal lain yang menarik misalnya, Christopher tidak MERASAKAN kasih sayang ayahnya.
Tapi ia tahu ayahnya sayang padanya dengan menggunakan LOGIKA.
Beginilah cara berpikir Christopher: “Menyayangi seseorang berarti menolong mereka kalau mereka mendapat masalah, & juga mengurus mereka, & selalu berkata jujur pada mereka. Dan Ayah selalu menolongku kalau aku mendapat masalah,… & juga mengurusku dengan menyiapkan makanan untukku, & dia selalu berkata jujur kepadaku, & ini berarti dia sayang kepadaku”

Cita-cita Christopher sangat sederhana. Ia ingin lulus sekolah (SLB), melanjutkan kuliah jurusan Matematika, Fisika, atau Matematika & Fisika, lalu bekerja sebagai ilmuwan. Ia juga ingin memiliki istri agar ada yang mengurusnya (Perhatikan, ia sama sekali tidak berpikir untuk mencintai seseorang!)

Yah.. demikianlah dunia Christopher.
Dunia yang sulit dijalani.
Membuat aku banyak memahami dunia penderita autism.
Kalaulah tokoh ini nyata, aku yakin Christopher bisa menjalani hidup secara mandiri.
Aku akan menutup tulisanku ini dengan paragraph penutup dalam novel ini,

"Kemudian aku akan lulus dengan pujian & aku akan menjadi ilmuwan.
Dan aku tahu aku pasti bisa karena aku pernah ke London seorang diri, & karena aku memecahkan misteri Siapa yang Membunuh Wellington? Dan aku bisa menemukan ibuku dan aku berani dan aku menulis buku dan ini berarti aku bisa melakukan apa saja"

Data buku
Judul : Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran
Pengarang : Mark Haddon
Penerjemah : Hendarto Setiadi
Tahun : 2005 (Cetakan ketiga)
Jakarta; Kepustakaan Populer Gramedia, 2004
Viii+312 hlm; 13.5 cm x 20 cm

Sabtu, 25 Oktober 2008

Cerpen: Kopiah Putih

Hari itu adalah Ulang tahun Ali yang ke-20 tahun. Ali tersenyum senang menerima kado dari Nida, adik bungsunya yang masih duduk di kelas 1 SD. Tapi Ali meringis saat melihat isi kado itu adalah.. sebuah kopiah putih.

Nida melihat perubahan raut wajah kakaknya itu. Senyum lebar Nida pun berubah sedih.

“Aa ga suka yah..?” tanya Nida polos.

Ali terkejut. Ia tak menyangka Nida akan bertanya seperti itu.

“Su..ka..!” jawab Ali berusaha meyakinkan Nida.

“Bohong..!”

“Bener! Kopiahnya bagus. Terimakasih ya…”

Nida memasang wajah cemberut.

Ali berlutut, agar matanya sejajar dengan mata Nida.

“Nida sayang.. Aa sukaaaa banget sama kopiah ini..”

“Apa buktinya?” tantang Nida.

“Haaah..? Bukti..? Buktinya…….” Ali bingung.

“Aa besok pake kopiah itu ya. Pake juga ke kampus. Pasti keren!” ucap Nida riang.

Ali bengong.

“Tuh kan.. Aa ga mau!” Nida kembali cemberut.

“Iya.. iya.. Aa pake kopiah ini besok. Oke?” jawab Ali sambil tersenyum.

Nida memeluk kakaknya bahagia.

Keesokan harinya…

Ali tiba di kampus pukul 12 siang. Hari itu ada rapat KKN. Beberapa orang temannya sudah berkumpul di salah satu sudut kampus. Ali menghampiri mereka.

Teman-temannya yang sedang asyik ngobrol, baru ngeh akan kehadiran Ali ketika Norman berseru,

“Gilee.. si Ali pake kopiah!”

Ali langsung jadi pusat perhatian.

“Oh my God.. Sumpah ya.. sumpah ya.. lo ganteng banget…” sahut Intan yang terkenal blak-blakan itu.

“Addeuuu…” yang lain menyoraki.

Ali salah tingkah.

“Eh, gw mau solat dulu ya..” sahut Ali seraya meninggalkan teman-temannya.

“Gw ikut!” sahut Gama. Ia melompat dari duduknya, mengikuti Ali ke mesjid.

Teman-teman Ali memandang Ali yang menuju masjid dengan tatapan takjub.

“Gua seneng tuh, orang kayak gitu. Dugem sih dugem. Tapi solat gak pernah ketinggalan coy!” sahut Norman. Yang lain mengiyakan.

“Tapi.. penting ya, dia pake kopiah?” tanya Kujo.

Norman angkat bahu.

Di mesjid..

Mushola belum begitu ramai. Memang tidak banyak orang yang on-time sholatnya. Ali & Gama berdiri di shaf kedua, mendengarkan orang yang tengah iqomat. Begitu selesai iqomat, orang tersebut menyingkir, menyediakan tempat untuk imam. Tapi tidak ada seorang pun yang maju. Para jamaah saling melempar pandang. Sampai akhirnya, satu persatu menoleh kea rah Ali.

Ali menyenggol Gama dengan sikunya.

“Lo jadi imam, deh..”

“Tapi orang-orang nunjuk elo!” bisik Gama.

Ali tidak punya alasan untuk menolak. Huh.. pasti gara-gara orang liat gw pake kopiah ini, deh… gerutu Ali dalam hati.

Ali pun maju, merapikan shaf, & memimpin shalat.

“Allaaahu Akbar..”

Ali & Gama kembali ke tempat anak-anak berkumpul. Tinggal menunggu dua orang lagi untuk memulai rapat.

Ada orang lain disitu. Teman Kujo. Kujo memperkenalkannya pada Ali & Gama.

“Nah, kalo yang ini namanya Ali & Gama, yang paling soleh diantara kita-kita,” sahut Kujo pada Ian.

“Apa sih lo,” komentar Ali.

Ian mengangguk-angguk. Ia lalu bertanya.

“Eh, Al, gw mau nanya deh. Sebenernya, kenapa sih, Allah nyuruh kita solat?”

Ali kaget. Ia terdiam. Berpikir keras.

Teman-teman menoleh kea rah Ali. Menunggu jawaban apa yang akan ia kemukakan. Kenapa ya…? Sepengetahuannya, ketika Nabi Muhammad menerima perintah solat. Emang ga pake alasan. Duh, kenapa ya…? Ali bingung.

“Aaaahhh.. gimana sih lo, Al. Masak gitu aja ga bisa jawab. Malu sama kopiah!” sindir Kujo. Ali tak berkata-kata. Ia merasa sangat malu. Mungkin wajahnya udah kayak udang rebus.

“Lo percaya ga sih kalo Allah itu tuhan kita?” tiba-tiba Gama bertanya pada Ian.

“Percaya,” jawab Ian. Yang gw tanyain, kenapa Allah nyuruh kita solat. Kenapa solat..?”

“Gini. Kalo lo percaya Allah itu tuhan lo, lo ga berhak nanya kayak gitu.”

Ian heran.

Teman-teman lain diam memperhatikan.

“Sebagai zat yang nyiptain kita, Dia bebas nyuruh kita ngapain aja. Yang harus kita lakuin cuma nurut. Tapi apapun itu yang ia perintahkan, prinsipnya satu: itu demi kebaikan kita…”

Suasana hening.

Ali merenung.

“Eh, tuh Aldo & Ve udah dateng. Kita rapat yok!” ucap Kujo memecah kesunyian.

Mereka pun bergerak, mencari tempat yang cukup lapang untuk duduk melingkar.

“Jadi… Koordinator acaranya Intan, MCnya Kujo, LO pembicara Ve, Pembaca doanya.. belum ada. Siapa nih?” sahut Nana, ketua pelaksana program Buka Bareng.

“Gama aja…” Ali mengusulkan.

“Gama kan koor dokumentasi…” komentar Nana.

….

“Ali aja ya..?” sahut Nana, setelah menerima isyarat dari Intan & Kujo.

“Kenapa gw sih..? Gw ga bisa! Ga ah. Ga mau…!”” tolak Ali mentah-mentah.

“Siapa lagi, Al. Gak ada orang lagi. Udahlah, gw yakin lo pasti bisa…” Intan mendukung.

Ali cemberut.

Begitu rapat selesai, Ali menghampiri Nana.

“Lo yakin, gw jadi pembaca doa..? Gw ga bisa, Na. Serius gw…” sahut Ali dengan tampang memelas.

Nana menghela napas. Ia bersikap sabar.

“Al, lo muslim kan..? Masak lo ga bisa baca doa sih? Abis solat lo ngapain?”

“Ya… bisa, tapi…”

“Ya udah, gw tau lo bisa..”

“Doa apa…?”

Melihat reaksi Nana yang: sumpeh-lo-ga-tau-doa-apa? Membuat Ali sadar kalo ia salah pertanyaan.

“Ntar gw kasih lo teks doanya…” jawab Nana.

Ali tidak punya alasan lagi untuk menolak.

Malamnya.. di kamar Ali.

Ali menimang-nimang kopiah itu. Ia teringat kata-kata Kujo, “Malu tuh sama kopiah!”

Bukan malu sama kopiah Jo, ucap Ali dalam hati. Gw malu sama diri gw sendiri. Gw malu sama Allah. Ternyata gw belum jadi muslim sejati. Gw masih harus banyak belajar…

Ali lalu mengambil sebuah buku doa, dari Nana. Ia membuka halamannya & mulai menghafal.


Ali membacakan doa dengan lanc
ar di acara Bubar. Nana & teman-teman tersenyum bangga..

Cerpen: Tuhan, beri kami hidup..

Jam menunjukkan waktu pukul sembilan tepat ketika bel rumah Raddy berbunyi. Dari dalam rumah, seorang wanita setengah baya membukakan pintu. Di depan, tampak seorang gadis manis tersenyum sopan padanya. Sang ibu langsung mengenalinya. Gadis itu adalah Salsa. Kekasih Raddy.

Ny.Darma tersenyum senang. Beliau mempersilahkan Salsa masuk. Salsa adalah perempuan pertama yang direstuinya untuk menjadi kekasih Raddy. Menurutnya, Salsa adalah gadis sederhana & bersahaja. Ia banyak memberikan pengaruh yang positif pada Raddy, putra bungsunya.

“Kalian sudah janjian? Raddy lagi ga ada di rumah, lho?” sahut beliau ramah.

“Saya tahu, Bu. Justru itu saya kesini. Saya mau bikin surpraise buat dia. Boleh ga, saya masak kue disini..?” jawab Salsa manis.

* * *

“Raddy itu sibuk banget ya, Bu?” Tanya Salsa seraya menghias cake ultah mungil dengan tulisan ‘Semoga panjang umur’.

“Iya.. begitulah. Ia ingin menikmati hidupnya. Ia lakukan semua hal yang ia ingin lakukan…”

Jawaban itu membuat Salsa sedikit heran. Tapi ia tidak berkomentar.

“Oya, Bu. Biasanya hari minggu pagi kaya gini, Raddy itu main di mana ya, sama temen-temennya..?” Sudah lama Salsa ingin menanyakan ini, karena selama dua bulan ia berpacaran dengan Raddy, ia tidak pernah bias menemui Raddy setiap Minggu pagi. Berbagai macam, alasannya. Kali ini, Raddy mengatakan bahwa ia akan ngumpul sama teman-temannya.

Ny. Darma menatap Salsa dengan bingung.

“Kamu tidak tahu Raddy kemana..?”

Salsa menggelengkan kepala pelan dengan sedikit bingung.

“Raddy tidak memberitahu kamu tentang keadaannya..?”

Salsa semakin bingung. Lalu ia mulai merasa cemas & khawatir. Walaupun untuk alas an yang belum ia ketahui.

Ny. Darma terdiam.

“Memangnya, Raddy kemana, Bu?”

Ny. Darma tidak langsung menjawab. Ia sepertinya agak ragu.

“Sebenarnya..tiap Minggu Raddy harus...” Ny. Darma menghela nafas berat. “…cuci darah. Ginjalnya hanya satu & semakin melemah. Usianya hanya sampai.. selama ia mampu cuci darah…” sahutnya pelan.

Suasana mendadak hening. Salsa shock. Ia terdiam, berusaha mencerna kalimat itu. Ia tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Seluruh tubuhnya lemas. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia lalu memandang hasil karya di hadapannya: ‘Semoga panjang umur’.

* * *

Salsa terdiam di jendela kamarnya, memandang matahari yang mulai terbenam. Air mata bergulir di pipinya yang halus. Tadinya ia pikir hari itu adalah hari yang bahagia. Karena ia akan membuat kejutan untuk Raddy. Tapi justru ia yang terkejut. Dan mendadak hari itu adalah hari yang paling kelabu baginya. Ia meninggalkan rumah Raddy tanpa sempat memberikan secara langsung kue itu padanya

.

Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Salsa menghapus air matanya.

“Vie.. Raddy dating, tuh!” teriak kakaknya dari luar pintu.

Salsa langsung keluar kamar & menuju ruang tamu. Disana, duduk seorang pemuda tampan, yang membuat orang lain iri betapa beruntungnya dia. Seseorang yang ia sayangi & membuat hidupnya berwarna. Seseorang yang telah menjadi belahan jiwanya walaupun usia pacaran mereka belum genap tiga bulan. Seseorang yang ingin ia lalui hidup bersamanya.

Raddy memakai jaket merah favoritnya. Matanya memandang kea rah Salsa. Mata itu.. Salsa tidak tahan melihatnya. Ia lalu mengajak Raddy berbicara di teras.

Tanpa diduga, malam itu mereka bertengkar.

“Memangnya kenapa kalau aku sakit..?!” ucap Raddy setengah berteriak. “Aku harus ngejauhin kamu? Gitu?! Kayak di film-film bioskop itu? Aku ga mau ngejauhin orang yang aku cintai Cuma gara-gara aku sakit!”

“Kamu ga ngerti, Raddy!” balas Salsa dengan mata yang mulai terasa panas.

“Aku Cuma pengen sisa hidupku bahagia. Dan itu cuma kalau aku sama kamu!”

Tangis Salsa pecah.

“Dengar Salsa. Aku ga peduli sama penyakit aku..!”

“Tapi aku peduli!” teriak Salsa. “Umur kamu gak lama lagi! Kamu bakalan ninggalin aku! Kamu gat au gimana rasanya..!”

“Umurku gak lama lagi..? Huh!” Raddy mencibir, “Siapa yang menjamin umur kamu bakal lebih panjang daripada aku..?”

Salsa memandang Raddy tajam.

“Yang namanya manusia itu semuanya bakalan mati! Emangnya kamu pengen aku hidup selamanya..? Gak mungkin, kan..?” sahut Raddy pedas.

Salsa tidak tahan lagi. Ia berlari meninggalkan Raddy, menuju kamarnya. Ia membanting pintu, berjalan kea rah tempat tidurnya, menenggelamkan dirinya dalam bantal & menangis hebat.

Diluar, Raddy terdiam menahan amarah. Sekaligus menahan sedih.

Keesokan harinya..

Raddy mendekati Salsa yang berdiri di pinggir jalan. Saat itu Salsa baru saja selesai kuliah.

“Vie, aku antar kamu pulang naik motor,” sahut Raddy datar.

“Gak perlu, Raddy. Kita udah putus,” sahut Salsa, berharap secepatnya mendapat angkutan umum. Kening Raddy berkerut.

“Alasannya..?”

“Lebih baik aku sedih sekarang. Aku berharap nanti aku gak akan terlalu sedih kalo kamu beneran ninggalin aku selamanya..!” Salsa berjalan menjauh. Raddy mengikutinya.

“Ini ga adil, Vie!”

Salsa berjalan semakin cepat. Ia tidak ingin berbicara lagi dengan Raddy. Hal itu akan membuat hatinya semakin sedih. Sejujurnya ia tidak ingin seperti ini. Ia masih mencintai Raddy.

“Aku mencintai kamu, Vie!” teriak Raddy.

Berharap ia mampu membuat Raddy diam, Salsa berbalik & berkata, “Aku gak mencintai kamu!”. Dilihatnya wajah Raddy. Tapi Raddy tidak menatapnya. Raddy justru melihat ke sebelah kiri Salsa. Salsa mengikuti arah pandang Raddy. Dari sebelah kiri, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ia tidak bias menghindarkan diri. Ia masih bias mendengar teriakan Raddy menyebut namanya. Lalu semua menjadi gelap.

Di ruang ICU…

Raddy mendekati Salsa yang terbaring. Ia berusaha keras mengendalikan diri agar tidak menangis. Ia memandang wajah Salsa yang tertidur lelap, ditemani alat bantu pernafasan. Kondisinya masih kritis.

Teringat olehnya pertengkaran mereka tadi malam.

‘Umur kamu gak lama lagi! Kamu bakalan ninggalin aku! Kamu gat au gimana rasanya..!’

“Vie.. kini aku tahu rasanya. Aku khawatir. Aku cemas. Aku sedih. Aku takut. Aku takut kehilangan kamu.. Aku gak mau kamu meninggal di depanku.. Aku gak mau ditinggal mati, Vie..

Siapa yang menjamin umur kamu bakal lebih panjang daripada aku..?’ Kini Raddy benar-benar menyesal telah mengatakan itu. Ia mulai menangis.

‘Yang namanya manusia itu semuanya bakalan mati!’

Dadanya bergemuruh. Ia merasa hancur. Untuk pertama kalinya ia merasa betapa manusia amat lemah.

Malam itu Raddy berdoa. Doanya kali ini sangat khusyuk.

Lama.

Penuh kepasrahan.

Pada akhir doanya, ia bersujud & memohon,

“Ya Tuhan.. berikanlah kami hidup…”

Air matanya mengalir deras, tanpa suara.

Resensi buku: The Little Prince

Finally..! Gw nemu sebuah buku selain Laskar Pelangi yang layak gw tulis ulasannya. Kalau LP gw tulis di diary, maka buku ini jadi buku pertama yang gw ceritain di blog ini.

The title is The Little Prince alias Pangeran Kecil, karya Antoine de Saint-Exupery dari Prancis. Dari luar, kayaknya ini buku anak-anak. Tapi liat isinya, penting banget dibaca orang dewasa. Di dalamnya ada persepsi anak tentang orang dewasa yang tidak bisa ia mengerti.

Buku ini bercerita tentang seorang anak yang berasal dari suatu planet (sebenernya sih, karena kecil banget, lebih tepat kita sebut asteroid. Coz planet dia ga lebih besar dari rumah!). Ia berpetualang ke planet2 lain (baca: asteroid2 lain) sampai terakhir dia singgah di bumi. Ini beberapa pesan yang gw dapet dari perjalanannya.

Di planet 1, ia bertemu dengan seorang raja yang haus kekuasaan. Padahal dia sendirian! Dia ga punya rakyat. Bagian ini menyindir orang-orang yang mentingin kekuasaan. Padahal apa gunanya jadi raja tanpa rakyat yang mengakuinya?

Di planet 2, dia ketemu orang yang angkuh, senang dipuji, & suka diberi tepuk tangan. Menyindir orang2 yang haus popularitas. Padahal menurut pangeran kecil: Untuk apa sih, jadi orang yang dikagumi? (FYI, setiap planet yang ia kunjungi hanya dihuni 1 orang, kecuali Bumi).

Di planet 3, dia ketemu seorang pemabuk, yang terus minum karena dia malu jadi pemabuk! Ini menyindir orang-orang yang ga mau berubah, padahal dia tahu kalo hal yang dikerjain ga bagus buat dia. Gw jadi inget para perokok…

Di planet 4, ia ketemu seorang pengusaha, yang kerjaannya Cuma ngitung bintang yang ia anggap sebagai hartanya. Ini menyindir orang2 yang terlalu memikirkan materi. Ketika si kecil bertanya untuk apa jadi kaya, si pengusaha bilang agar bisa membeli bintang lagi, sehingga ia akan tambah kaya. Dasar kapitalis!

Di planet 5, pangeran kecil bertemu orang yang sibuk bekerja, taat terhadap perintah, tapi membuat dia tidak bisa beristirahat. Ini menyindir orang-orang workaholic. Terlalu rajin bekerja tapi tidak memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Kasihan sekali..

Di planet 6, ia bertemu seorang geografer. Ilmuwan yang tahu semua letak laut, sungai, kota, gunung, & gurun. Tapi ia tidak tahu apakah di planetnya ada laut, sungai, kota, gunung, & gurun. Kenapa? Karena dia tidak pernah menjelajahinya. Dia Cuma nanyain orang-orang yang lewat di hadapannya. Hmm, ini agak complicated. Tapi buat gw, bagian ini berusaha ngasih pesan buat kita untuk mencari pengetahuan dengan banyak berjalan, mengamati, merasakan, mengobservasi. Pengetahuan dari orang lain tidaklah cukup. Hanya sebatas teori. Hanya sebatas “kata orang…” atau “menurut si…”

Nah! Jadi, banyaklah berjalan! Jangan jadi katak dalam tempurung..

Setelah itu ia ke Bumi. Disini.. gw dapet dua hal yang bagus.

Pertama, ia menemukan seorang pedagang yang menjual pil berkualitas tinggi untuk menghilangkan haus. Satu pil diminum, maka kita tidak akan haus selama seminggu. Itu menghemat 53 menit waktu yang biasanya terbuang hanya untuk minum.

Pangeran itu berkata, “Aku, kalau aku punya waktu 53 menit untuk digunakan, aku akan berjalan pelan-pelan ke sumber air terdekat.”

Ini dalem banget.. Zaman sekarang, banyak orang menuntut hal yang lebih simpel, lebih sederhana, lebih hemat waktu, & instan. Padahal, justru proses itulah yang seharusnya dinikmati. Perjalanan, perjuangan, & pengorbanan, bukankah itu yang membuat air lebih nikmat?

Lagipula, menghilangkan rasa haus tidak menghilangkan kebutuhan tubuh atas air, bukan? Rasa haus itu penting, sebagai peringatan bahwa tubuh kekurangan cairan. Kalau kita tidak merasa haus selama seminggu, dan karena itu kita tidak minum, maka tunggulah kematian kita sebentar lagi.

Kelelahan mencari air membuat kita tetap hidup. Kelengahan tidak minum membuat kita mati. Jadi teman.. kalau kamu merasa perjalanan masih panjang, perjuangan terlalu berat, & pengorbananmu sudah besar, bersyukurlah karena kamu masih hidup, & akan mendapatkan hasil yang luar biasa!

Kedua, si pangeran menemukan lima ribu mawar yang tampak sama dengan sekuntum mawar yang ia pelihara di planetnya. Namun ia menyadari, ribuan mawar itu tidak sama dengan mawarnya. Mawarnya spesial karena ia yang menyirami, yang merawatnya, yang diberi kubah kaca agar hangat, yang ia lindungi dengan tabir, yang ia dengarkan ketika mawarnya mengeluh, menyombongkan diri, atau membisu. Karena itu mawarnya.

Dan ia diberi nasehat oleh seekor rubah, bahwa pangeran harus bertanggungjawab, selamanya, atas apa yang telah ia pelihara. Ia bertanggungjawab atas mawarnya.

Pesan ini bisa luas banget maknanya. Buat gw, pesannya disini adalah, apa yang kita miliki adalah spesial. Bersyukurlah atas tubuh kita, keluarga kita, teman-teman kita, diri kita. Mereka semua spesial karena mereka milik kita. Merekalah yang kita sayang. Merekalah yang kita perhatikan. Merekalah yang kita kunjungi. Merekalah yang kita doakan. Merekalah yang kita repotkan (he he). Soo.. Sweet…

Berlaku juga buat barang-barang yang kita miliki. Semua spesial karena mereka milik kita (ralat. Milik Allah yang dititipkan untuk kita.) Jadi, bersyukurlah!

Ada nasehat lain dari rubah: Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu. Hal yang penting tidak terlihat oleh mata. Yang satu ini masih harus gw renungin. Apa ya, kira-kira makna terbesarnya? Kamu tau?

Resensi Buku: Managing With Carrots

Dalam cover-nya, subtitle buku ini ialah Metode Penghargaan untuk Menarik & Mempertahankan Pekerja Terbaik Anda.
Buku ini menuliskan bahwa penting bagi perusahaan untuk memberi penghargaan bagi karyawan, karena bagi para pekerja, ada yang lebih penting daripada uang, yaitu penghargaan.

98% para CEO mengakui, karyawan adalah asset terbesar perusahaan.

Namun, sedikit diantara mereka yang menghargai karyawannya dengan tepat.


Pemberian penghargaan memiliki keuntungan sbb:

1
Mencapai tujuan atau sasarn perusahaan atau divisi, menghargai keberhasilan yang luar biasa, meningkatkan moral, meningkatkan produktivitas & marjin keuntungan,
meningkatkan laba & menarik bisnis yang lebih banyak, & mempertahankan para pekerja berkualitas.

Penghargaan yang diharapkan para pekerja ternyata bukan uang tunai, karena uang tunai bisa habis tanpa bekas. Mereka lebih menginginkan barang berharga, terutama bila di bubuhi logo perusahaan.

Cara pemberiannya pun tidak boleh sembarangan. Hadiah yang bagus, apabila diberikan lewat pos, akan membuat karyawan merasa kurang puas. Perusahaan yang baik akan membuat acara penganugerahan yang meriah, yang akan membuat karyawan merasa bangga, merasa dihargai, serta dapat menjadi inspirasi & teladan karyawan lain.

Buku setebal 108 halaman ini memberikan informasi yang cukup detil, disertai dengan studi kasus, data statistic, & tips-tips praktis bagaimana cara memberikan penghargaan kepada karyawan secara benar.

Penulis buku ini, Adrian Gostick & Chester Elton bekerja sebagai konsultan di O.C. Tanner Recognition Company, sebuah perusahaan konsultan pertama di dunia yang menkhususkan diri pada bidang penghargaan bagi para pekerja.

Buku ini wajib dibaca oleh semua manajer SDM yang mungkin sering kesulitan dalam mempertahankan pekerja, meski mereka telah diberi gaji yang cukup tinggi.

Data buku:

Judul : Managing with Carrots

Penulis : Adrian Gostick & Chester Elton

Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.

Tahun Terbit : 2004